Baso, 2026 — Hari kedelapan Pesantren Ramadhan 1447 H di SMA Negeri 1 Baso kembali diwarnai dengan kegiatan yang sarat nilai adat dan agama. Sejak pagi, siswa memulai aktivitas dengan Sholat Dhuha berjamaah. Suasana hening yang menyelimuti musala menjadi awal yang menyejukkan sebelum memasuki materi inti.

Ceramah hari ini disampaikan oleh Desmal S. El dengan tema “Sumbang Duo Baleh dan Pelaksanaannya di Masyarakat.” Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa Sumbang Duo Baleh merupakan bagian dari falsafah adat Minangkabau yang mengatur etika dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pergaulan dan interaksi sosial.

Beliau menguraikan berbagai bentuk sumbang yang harus dihindari, baik dalam sikap, perkataan, maupun tindakan, agar tercipta kehidupan masyarakat yang harmonis dan bermartabat. Para siswa diajak memahami bahwa adat dan syariat berjalan beriringan, saling menguatkan dalam membentuk karakter generasi muda.
Pemaparan materi berlangsung interaktif. Siswa tampak antusias ketika diberikan contoh-contoh penerapan Sumbang Duo Baleh dalam lingkungan sekolah dan pergaulan remaja masa kini.
Setelah sesi ceramah, kegiatan dilanjutkan dengan istirahat. Usai beristirahat, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melaksanakan setoran tahfiz bersama pembimbing kelompok. Lantunan ayat suci kembali terdengar, mengalir lembut memenuhi ruang-ruang belajar.

Menjelang siang, seluruh peserta melaksanakan sholat berjamaah dengan tertib dan khusyuk. Kebersamaan dalam ibadah menjadi penguat nilai disiplin dan persaudaraan.

Kegiatan hari ketujuh ditutup dengan sesi foto bersama. Potret kebersamaan tersebut menjadi saksi perjalanan pembinaan karakter yang terus berlanjut.

Melalui materi tentang Sumbang Duo Baleh, Pesantren Ramadhan 1447 H di SMA Negeri 1 Baso tidak hanya menanamkan nilai keagamaan, tetapi juga memperkuat pemahaman adat sebagai identitas dan pedoman hidup bermasyarakat.