Baso, 27–28 Agustus 2025 – SMA Negeri 1 Baso kembali mengukir langkah penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini diwujudkan melalui pelaksanaan In House Training (IHT) dengan tema “Peningkatan Mutu Pembelajaran untuk Penguatan Kompetensi Literasi dan Kemandirian Murid melalui Penerapan Deep Learning.” Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni Rabu dan Kamis (27–28 Agustus 2025), bertempat di Aula SMA Negeri 1 Baso.
Kegiatan IHT tersebut diikuti oleh seluruh guru SMA Negeri 1 Baso dengan penuh semangat dan antusias. Narasumber yang dihadirkan adalah Ibu Refnita, S.Pd., M.Pd., seorang praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengembangan pembelajaran.
Rangkaian Acara Pembukaan
Acara IHT diawali dengan pembukaan oleh MC, Ibu Nila Refyanti, S.Pd.. Setelah itu, Kepala SMA Negeri 1 Baso, Ibu Riana Dewi, M.Si., memberikan kata sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pencerahan baru bagi para guru agar dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, bermakna, serta relevan dengan kebutuhan murid di era saat ini.

“Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan fasilitator yang mampu menginspirasi murid agar belajar secara mandiri, kritis, dan kreatif. Dengan pelatihan ini, mari kita tingkatkan mutu pembelajaran demi lahirnya generasi yang literat dan mandiri,” ungkap beliau.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Bapak Delfianto, M.Pd. untuk memohon keberkahan dan kelancaran kegiatan.
Hari Pertama: Pendalaman Materi
Memasuki sesi inti, narasumber, Ibu Refnita, S.Pd., M.Pd, memaparkan materi pertama tentang Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Materi ini mencakup dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran, pengalaman belajar, serta kerangka pembelajaran.

Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya strategi pembelajaran kooperatif. Salah satu yang diperkenalkan adalah metode Think Pair Share (TPS). Metode ini memberi kesempatan murid untuk berpikir secara individu, kemudian berpasangan untuk berdiskusi, dan selanjutnya berbagi ide dengan seluruh kelas. Menurut beliau, strategi ini sangat efektif untuk mendorong interaksi antarmurid, meningkatkan partisipasi aktif, serta membantu murid memahami materi secara lebih mendalam.
“Dengan TPS, murid tidak hanya menjadi pendengar pasif, melainkan ikut terlibat aktif. Mereka belajar berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan menghargai ide orang lain,” jelas Ibu Refnita.
Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan materi Literasi Membaca. Pada sesi ini, Ibu Refnita menguraikan tiga tahapan penting dalam proses membaca, yaitu pra membaca, saat membaca, dan pasca membaca. Guru diajak untuk memahami bahwa membaca bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan proses membangun makna dan pemahaman.

Beliau menegaskan bahwa jika strategi literasi ini diterapkan, guru akan mampu menuntun murid menemukan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, kegiatan literasi tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi sebagai keterampilan penting untuk kehidupan mereka.
Materi terakhir pada hari pertama adalah Graphic Organizer dalam Pembelajaran. Graphic Organizer diperkenalkan sebagai strategi visualisasi konsep yang efektif untuk mendukung literasi maupun numerasi. Dengan menggunakan simbol, diagram, dan peta konsep, murid dapat lebih mudah memahami gagasan-gagasan abstrak.

Pada sesi ini, para guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga langsung mencoba membuat dan menggunakan graphic organizer dalam diskusi kelompok. Aktivitas ini menambah pengalaman praktis yang bermanfaat bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih interaktif.
Hari Kedua: Aplikasi dan Peer Teaching
Hari kedua tidak kalah menarik. Para guru hadir dengan semangat yang tinggi untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di hari pertama. Mereka dibagi ke dalam kelompok sesuai mata pelajaran (KKG) untuk menyusun Rencana Pembelajaran dengan mengintegrasikan materi yang sudah didapatkan.

Setelah perumusan rencana pembelajaran, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya di hadapan guru lain melalui kegiatan peer teaching. Dalam kegiatan ini, guru yang tampil seolah-olah mengajar di kelas, sementara guru lain berperan sebagai murid. Suasana belajar terasa hidup, penuh dengan ide-ide kreatif dan inovasi.

Setelah presentasi, rekan-rekan guru memberikan refleksi dan masukan untuk penyempurnaan. Ibu Refnita, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber, juga turut memberikan komentar, saran, dan catatan perbaikan. Menariknya, guru yang sudah tampil pun diminta memberikan refleksi atas pengalaman mereka sendiri.

Metode ini menumbuhkan budaya saling belajar dan saling mendukung antarguru. Tidak hanya meningkatkan keterampilan mengajar, kegiatan ini juga mempererat hubungan kolaboratif di antara guru.
Penutup
Secara keseluruhan, pelaksanaan IHT di SMA Negeri 1 Baso berjalan lancar, penuh semangat, dan memberikan dampak positif. Para guru merasa mendapat bekal baru yang bermanfaat untuk diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.
Kegiatan ini membuktikan bahwa SMA Negeri 1 Baso terus berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan dengan menghadirkan pembelajaran yang relevan, kreatif, dan bermakna. Dengan penerapan deep learning, diharapkan lahir generasi murid yang literat, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.
“Kami berharap setelah IHT ini, guru-guru dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sudah dipelajari. Mari bersama-sama kita wujudkan pembelajaran yang lebih mendalam, literat, dan berpusat pada murid,” tutup Ibu Riana Dewi, M.Si., Kepala SMA Negeri 1 Baso.