Baso, 2026 — Memasuki hari kedua Pesantren Ramadhan 1447 H, suasana religius di SMA Negeri 1 Baso semakin terasa. Langkah para siswa kembali tertuju ke musala sejak pagi, memulai kegiatan dengan Sholat Dhuha berjamaah sebagai penguat niat dan penyegar jiwa sebelum menerima ilmu.

Usai Sholat Dhuha, Ketua Pelaksana Pesantren Ramadhan, Irma Furada, S.Pd. Kim, memberikan pengarahan kepada seluruh peserta. Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan pentingnya menjaga kedisiplinan, adab, dan kesungguhan selama mengikuti rangkaian kegiatan. Ia menekankan bahwa Pesantren Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pembinaan karakter dan penguatan iman.

Kegiatan dilanjutkan dengan materi ceramah yang disampaikan oleh Muhammad Fadli Athani, M.Pd, dengan tema “Bahaya Syirik terhadap Diri, Keluarga dan Masyarakat serta Bahaya Syirik di Media Sosial.” Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa syirik merupakan dosa besar yang dapat merusak fondasi keimanan seseorang. Tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi keharmonisan keluarga serta ketenteraman masyarakat.

Beliau juga menyoroti fenomena syirik dalam konteks modern, termasuk praktik-praktik yang tersebar melalui media sosial, seperti mempercayai ramalan, jimat digital, hingga konten yang mengarah pada kemusyrikan. Para siswa diajak untuk lebih kritis dan bijak dalam menyaring informasi di era digital, agar tidak terjebak dalam hal-hal yang merusak akidah.
Setelah sesi ceramah, kegiatan dilanjutkan dengan istirahat. Usai beristirahat, para siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melaksanakan setoran tahfiz bersama pembimbing kelompok. Suasana kelas dipenuhi lantunan ayat suci yang dilafalkan dengan penuh kesungguhan.

Menjelang siang, seluruh peserta melaksanakan sholat berjamaah dengan saf yang tersusun rapi, mencerminkan kekompakan dan kebersamaan dalam ibadah.

Hari kedua Pesantren Ramadhan ditutup dengan sesi foto bersama. Wajah-wajah penuh semangat dan cahaya keimanan terekam sebagai dokumentasi perjalanan spiritual yang terus bertumbuh.

Dengan materi yang menyentuh aspek akidah hingga tantangan zaman digital, hari kedua Pesantren Ramadhan 1447 H menjadi pengingat bahwa menjaga tauhid adalah fondasi utama dalam membangun diri, keluarga, dan masyarakat yang kokoh.